
Disfungsi eksekutif: Seberapa seriusnya kondisi ini
Apa ceritanya
Otak manusia dapat melakukan tugas yang paling rumit sekalipun dengan mudah, berkat beberapa fungsi yang dijalankannya sekaligus.
Namun, pada saat yang sama, pikiran juga rentan terhadap berbagai masalah kesehatan mental dan gangguan kognitif yang dapat berdampak besar pada kesehatan seseorang secara keseluruhan.
Disfungsi eksekutif adalah salah satu gejala yang dapat memperparah banyak kondisi medis yang mendasarinya.
1
Pengertian: Apa yang dimaksud dengan disfungsi eksekutif?
Jika fungsi eksekutif membantu kita untuk memperhatikan, mengingat informasi, melakukan banyak hal, mengabaikan gangguan, dan mengendalikan pikiran, disfungsi eksekutif dapat membuat penderitanya tidak dapat melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.
Ini gejala perilaku dari banyak kesehatan mental, kondisi yang memicu suasana hati seperti ADHD, depresi, gangguan bipolar, OCD, dan sebagainya.
Selain itu, disfungsi eksekutif dapat muncul dalam berbagai bentuk dan mengganggu kehidupan sehari-hari dengan gejalanya.
2
Penyebab: Kecanduan dan berbagai kondisi kesehatan mental dapat memicunya
Meskipun para ahli medis di seluruh dunia belum dapat menemukan penyebab pasti disfungsi eksekutif, mereka percaya bahwa kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai gangguan mental dan masalah gaya hidup.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa kecanduan (alkohol dan obat-obatan), gangguan spektrum autisme, depresi, skizofrenia, OCD, dan ADHD adalah pemicu utamanya.
3
Hal ini juga dapat terjadi karena kondisi-kondisi serius berikut
Disfungsi eksekutif juga dapat merupakan gejala tumor otak, penyakit Alzheimer, stroke, kejang, epilepsi, demensia, hipoksia serebral, sklerosis multipel, cedera otak traumatik, gegar otak, dan lain-lain.
4
Gejala: Susah fokus, melamun, dan masalah perencanaan adalah tanda-tandanya
Penderita disfungsi eksekutif dapat mengalami sejumlah gejala yang dapat menghambat rutinitas hariannya.
Beberapa gejala yang paling umum termasuk kurang fokus atau terlalu fokus pada sesuatu, perhatian mudah teralihkan, kesulitan merencanakan sesuatu atau berkonsentrasi, susah termotivasi, tidak fokus, melamun, dan masalah dalam melakukan banyak tugas.
Orang mungkin juga merasa sulit untuk mengekspresikan pikirannya.
5
Perawatan: Pengobatan dan psikoterapi dapat berguna
Tergantung pada penyebab utama/cedera/kondisi kesehatan, praktisi medis dapat meresepkan obat-obatan tertentu untuk mengurangi penyakit dan gejalanya.
Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan untuk melakukan psikoterapi. Terapi Perilaku Kognitif (CBT) sangat membantu karena dapat memperbaiki pola pikir yang menyimpang.
Di rumah, penderita dapat melakukan meditasi atau mindfulness untuk menenangkan diri.