
Fakta menarik tentang platipus yang jarang diketahui
Apa ceritanya
Platipus adalah salah satu hewan paling unik di dunia.
Dengan penampilan yang menyerupai campuran antara bebek, berang-berang, dan berang-berang laut, platipus memiliki banyak keunikan yang jarang diketahui orang.
Dalam artikel ini, kita akan membahas lima sifat menarik dari platipus yang mungkin belum Anda ketahui sebelumnya.
Telur
Platipus bertelur seperti reptil
Salah satu fakta paling mengejutkan tentang platipus adalah bahwa mereka bertelur.
Meskipun mamalia umumnya melahirkan anaknya secara langsung, platipus justru bertelur seperti reptil.
Setelah telur menetas, induk platipus akan menyusuinya dengan cara mengeluarkan susu melalui pori-pori kulitnya karena tidak memiliki puting susu seperti mamalia lainnya.
Sengat
Memiliki sengat beracun
Platipus jantan dilengkapi dengan sengat beracun di pergelangan kaki belakangnya.
Racun ini digunakan untuk pertahanan diri dan dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat pada manusia maupun hewan lain.
Meskipun tidak mematikan bagi manusia, sengatan ini cukup menyakitkan dan bisa berlangsung selama beberapa hari.
Elektroresepsi
Indra elektroresepsi unik
Platipus memiliki kemampuan elektroresepsi yang luar biasa.
Mereka dapat mendeteksi medan listrik kecil yang dihasilkan oleh gerakan otot mangsanya di dalam air.
Kemampuan ini sangat berguna saat berburu makanan seperti cacing dan serangga air di dasar sungai atau kolam.
Perut
Tidak memiliki perut seperti mamalia lainnya
Berbeda dengan kebanyakan mamalia lainnya, platipus tidak memiliki perut sejati untuk mencerna makanan mereka.
Sebaliknya, makanan langsung masuk ke usus setelah ditelan tanpa proses pencernaan awal di lambung.
Ini adalah adaptasi unik yang membantu mereka mencerna makanan lebih cepat.
Semi akuatik
Hidup semi akuatik dengan kaki berselaput
Platipus adalah hewan semi akuatik dengan kaki berselaput yang memungkinkannya berenang dengan efisien di air sekaligus berjalan di daratan saat diperlukan.
Kaki berselaput ini juga membantu mereka menggali sarang di tepi sungai tempat mereka tinggal dan merawat anak-anaknya setelah menetas dari telur.